Bismillahirrahmanirrahim | Members area : Register | Sign in
Logo Design by FlamingText.com

Admin

Wikipedia

Hasil penelusuran

KH. MOH. KHOZIN MANSHUR KYAI BERDARAH ARYA PENANGSANG

Sabtu, 24 Agustus 2013




 Muhammad Khozin Manshur adalah putera kesepuluh dari pasangan KH. Muhammad Manshur – Hj. Maimunah binti Nur Syam bin Abdul Hafidz (Mbah Kampil). Lahir di Desa Mayangang kecamatan Peterongan (Jogoroto) kabupaten Jombang pada tahun 1912 M atau 1331 H. Dilihat dari segi nasab (asal-usul keturunan), KH M Mansur bukanlah nasab orang biasa. KH M Mansur biasa disebut dengan Abdul Bakir bin Arya Reja bin Arya Kromo bin Arya Penangsang bin Pangeran Sekar Seda Lepen. Dalam Babat Tanah Jawi, Pangeran Sekar adalah adik Pangeran Sabrang Lor, Adipati (Y) Unus, raja Demak ke-2 sesudah Raden Patah. Setelah wafatnya Adipati Unus, Pangeran Sekar meninggal dunia dalam usia muda karena dibunuh oleh sekelompok ‘orang misterius’ suruhan Sunan Prawata (anak Raden Trenggono), saat Pangeran Sekar dalam perjalanan pulang dari masjid menuju rumahnya. Kematiannya ditafsirkan oleh para sejarahwan bermuatan politis yaitu terkait dengan suksesi kepemimpinan kesultanan Demak. Jika Pangeran Sekar dibiarkan hidup dikhawatirkan tahta Demak akan pindah ke tangannya. Jasad beliau lalu dilemparkan ke sungai. Oleh karena itu, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda Lepen (Pangeran Sekar yang wafat di sungai). Pasca kematian Pati Unus dan Pangeran Sekar, kerajaan Demak diperintah oleh Sultan Trenggono, pamannya Pangeran Sekar. Sultan Trenggono adalah ayah dari Sunan Prawata. Saat tragedi berdarah itu terjadi, Pangeran Sekar telah mempunyai anak laki-laki yang bernama Arya Penangsang. Pasca kematian ayahnya, Arya Penangsang diasuh dan dididik oleh Sunan Kudus sebab Sunan Kudus adalah disamping sebagai wali (tokoh agama) juga menjadi penasehat raja dalam urusan kemiliteran. Oleh karena itu, Arya penangsang terkenal sangat sakti dan emosional. Sepeninggal Sultan Trenggono, Arya Penangsang berniat merebut tahta kerajaan sebab saat di usia dewasa Arya Penangsang hanya menjadi adipati di wilayah Jipang. Untuk itu, ia harus menghabisi Prawata serta Pangeran Hadiri atau Adipati Kalinyamat, yang melindungi Arya Penggiri, anak Prawata. Untuk merealisasi tujuan-tujuan di atas, Arya Penangsang harus berhadapan, berkonflik politis dan militer dengan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana). Dalam menghadapi tantangan dari Arya Penangsang, Jaka Tingkir harus mengerahkan banyak tenaga, pikiran dan taktik-taktik yang harus dilakukan sehingga Jaka Tingkir harus memanggil Ki Gede Pemanahan, Ki Juru Mertani dan Sutawijaya. Dalam konflik politis dan militer itu, akhirnya Arya Penangsang dapat dikalahkan dan dibunuh oleh Sutawijaya, prajurit andalan dan anak angkat Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Dalam pertempuran itu, Arya Penangsang tertombak lambungnya oleh tombak pusaka Kyai Plered. Konon, dalam kondisi kritis seperti itu, Arya Penangsang masih mampu “menyangsangkan” (menyampirkan) uraian-uraian ususnya pada hulu kerisnya. Menikah dengan Hj. Maimunah, KH M Manshur meempunyai 14 anak dan anak yang ke-10 bernama Muhammad Khozin Manshur. Adapun nama-nama saudara Muhammad Khozin Mansur yang dapat diidentifikasi adalah Khudhori, Ahmad, Shiratun, Ma’sum, Mas’amah, Minhaj, Nur Salim, Mu’minah. Selain menikah dengan Hj. Maimunah, KH M Mansur menikah juga dengan Shofiyah. Pernikahan dengan isteri kedua ini melahirkan anak antara lain Ruqoyyah, Yasin, Abdul Hadi. Pada jalur pernikahan dengan Ibu Shofiyah ini muncul mantan tokoh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Timur 1998-2003, Drs H Choirul Anam, namun sejak tahun 2007 ia keluar dari PKB dan bersama-sama kyai-kyai sepuh Jawa Timur dan nasional membentuk Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU).

Profil PP Manba'ul Hikam Putat Tanggulangin

Sabtu, 17 November 2012



Nama Pendiri Alamat
PP. Manba'ul Hikam Putat KH. Moh. KhozinMansyur Putat Tg.Angin
Pengasuh KH. KH. Salim Imron Putat
Pengasuh KH. Abd. Wahid Harun Putat Tg.Angin
ALamat Putat Tanggulangin Sidoarjo
Contact 031 8961334 031 8965807
Email abdulwachidharun@yahoo.com Gus Wahid
Kterangan Pesantren berdiri pada tahun 80-an dengan nama Darul Ulum, seiring dengan berlalunya waktu kemudian oleh Pengasuh dan Pendiri diganti dengan nama Manba'ul Hikam. Menerapkan kurikulum pesantren Salaf dengan tidak menutup diri dari pengembangan ilmu-ilmu yang dibutuhkan pada era sekarang fay

Studi Banding Dari PP Mambaul Hikam Putat Sidoarjo

Jumat, 16 November 2012


Enam orang rombongan dari Madrasah Diniyah al Wustho dan al Ulya Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Putat Tanggulangin Sidoarjo yang dipimpin KH Abd. Wahid Harun, pada Senin (02/07) berkunjung ke Madrasah Muallimin Muallimat Enam Tahun Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Kedatangan rombongan dari kota petis ini adalah dalam rangka melakukan studi banding tentang sistem pengajaran di Madrasah Muallimin Muallimat.
Dari Madrasah Muallimin Muallimat tampak menyambut kedatangan rombongan tersebut antara lain Kepala Madrasah, KH. Abd. Nashir Fattah,

Asal Usul Pondok Pesantren

Minggu, 12 Februari 2012


Pesantren atau yang lebih dikenal dengan pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional8 tertua di Indonesia. Menurut para ahli, lembaga pendidikan ini sudah datang sebelum Islam datang ke Indonesia. Hal ini dikemukakan oleh I. J. Brugman dan K. Meys, yang menyimpulkan dari tradisi pesantren seperti, penghormatan santri kepada kiyai, tata hubungan keduanya yang tidak didasarkan kepada uang, sifat pengajaran yang murni agama dan pemberian tanah oleh negara kepada para guru dan pendeta. Gejala lain yang menunjukkan azas non-Islam pesantren tidak terdapat di negara-negara Islam.

Pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pengajaran dan pendidikan agama Hindu di Jawa. Kemudian pendidikan ini diislamisasikan tanpa meninggalkan tradisi yang ada. Perbedaan yang mendasar ialah pada masa Hindu pendidikan tersebut hanya milik kasta tertentu, sedang pada masa Islam, pendidikan tersebut milik setiap orang tanpa memandang keturunan dan kedudukan, karena dalam pandangan Islam seluruh manusia merupakan umat yang egaliter.

Karena itu Islam dapat diterima oleh masyarakat dan pesantren dapat berkembang, oleh karena itu pesantren merupakan salah satu bentuk kebudayaan asli Indonesia.
Tentang kehadiran pesantren secara pasti di Indonesia pertama kalinya, di mana, dan siapa pendirinya tidak dapat diperoleh keterangan yang pasti. Ada pendapat yang maengatakan, pesantren pertama kali didirikan oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Beliau adalah ulama yang berasal dari Gujarat, India agaknya tidak sulit baginya untuk mendirikan pesantren karena sebelumnya sudah ada perguruan Hindu-Budha dengan sistem biara asrama sebagai tempat belajar mengajar. Dan mempunyai persamaan dengan pendidikan di India.

Meski begitu, tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Ia mendirikan pesantren di Kembang Kuning, yang pada waktu didirikan hanya memiliki tiga orang santri, yaitu: Wiryo Suroyo, Abu Hurairah, dan Kyai Bangkuning. Kemudian ia pindah ke Denta, Surabaya, dan mendirikan pesantren di sana, dan akhirnya beliau dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Sunan Ampel diambil menantu oleh penguasa Tuban bernama Ario Tejo. Di sini dapat disimpulkan adanya hubungan yang mesra antara ulama dan umara. Hubungan ini dijalin dengan da’wah, selain itu Ario Tejo membutuhkan bantuan sunan Ampel untuk mengamankan daerah Tuban, Gresik, dan Surabaya, sebagai kunci kemakmuran negara.

Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan Pesantren Ampel Denta pada dasarnya didukung oleh beberapa faktor, Pertama, letaknya yang strategis di pintu gerbang utama Majapahit, sehingga mau tidak mau mesti bersinggungan langsung dengan sirkulasi perdagangan Majapahit, karena seluruh kapal dari dan ke Majapahit mesti melewati pelabuhan Surabaya.

Kedua, lembaga pendidikan tersebut mirip dengan pendidikan sebelumnya. Ketiga, lembaga pendidikan tersebut dapat diikuti oleh setiap orang tanpa memandang keturunan dan kedudukan.

Pada awal berkembangnya, ada dua fungsi pesantren, pertama, sebagai lembaga pendidikan. Kedua, sebagai lembaga penyiaran agama. Kendati kini telah banyak perubahan yang terjadi namun inti fungsi utama itu masih melekat pada pesantren.

Pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang sangat pesat. Berdasarkan laporan pemerintah pemerintah kolonial Belanda, tahun 1831 di Jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah dengan jumlah santri tidak kurang 16.500 orang. Kemudian suatu survai yang diselenggarakan oleh kantor Shumubu ( Kantor Urusan Agama ) pada masa Jepang tahun 1942 jumlah pesantren bertambah menjadi 1.871 buah, jumlah tersebut belum dijumlah dengan pesantren di luar Jawa dan pesantren-pesantren kecil. Pada masa kemerdekaan jumlah pesantren terus bertambah, berdasarkan laporan Departemen Agama RI tahun 2001 jumlah pesantren di Indonesia mencapai 12.312 buah.

Perkembangan pesantren terhambat ketika Bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk menjajah. Hal ini terjadi karena pesantren bersikap non-kooperatif bahkan mengadakan konfrontasi terhadap penjajah. Akibat dari sikap tersebut maka pemerintah kolonial ketika itu mengadakan kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap pesantren. Setelah Indonesia merdeka, pesantren tumbuh dan berkembang dengan pesat. Ekspansi pesantren juga bisa dilihat dari pertumbuhan pesantren yang semula hanya rural based institution kemudian berkembang menjadi pendidikan urban. Lihatlah kemudian pesantren tumbuh di Ibukota Jakarta seperti Pondok Pesantren Darun Najah, Darul Rahman, As-Shiddiqiah, dan lain-lain. Bahkan kini pesantren bukan hanya milik organisasi tertentu tetapi milik umat Islam ndonesia.

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren


Secara terminologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu.

Setelah Islam masuk dan tersebar di indonesia,sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam. Istilah pesantren sendiri seperti halnya istilah mengaji, langgar, atau surau di Minangkabau, Rangkang di Aceh bukan berasal dari istilah Arab, melainkan India (Karel A Steenbrink, 1986)

Namun bila kita menengok waktu sebelum tahun 60-an, pusat-pusat pendidikan tradisioanal di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan pondok, barangkali istilah pondok berasal dari kata Arab funduq, yang berarti pesangrahan atau penginapan bagi para musafir.

Kata pesantren sendiri berasal dari akar kata santri dengan awalan "Pe" dan akhiran "an" berarti tempat tinggal para santri. Profesor (Zamakhsari;1983) berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti Guru mengaji

Potret Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam komplek pesantren dimana kyai bertempat tinggal. Disamping itu juga ada fasilitas ibadah berupa masjid. Biasanya komplek pesantren dikelilingi dengan tembok untuk dapat mengawasi arus keluar masuknya santri. Dari aspek kepemimpinan pesantren kyai memegang kekuasaan yang hampir-hampir mutlak.
Pedulikah Akhi-Ukhti (Alumni) terhadap PP. Manbaul Hikam Putat?
Sangat Peduli0%
Peduli 0%
Tidak Peduli 0%
Biasa Aja0%

Popular Posts

Unit Pendidikan

Followers

Kontributor

Random Post

Flag Counter

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *